Kontekstualisasi Tradisi Islam dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Pendidikan Tinggi Islam Indonesia


 1. Pendahuluan

Konteks pembelajaran bahasa Inggris bersifat umum dan khusus berdasarkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam konteks umum, tujuan pembelajaran adalah untuk memenuhi berbagai kebutuhan pembelajar yang meliputi kebutuhan linguistik, afektif, kognitif, dan sosial (Renandya dan Jacobs, 2021). Dalam konteks khusus, seperti lembaga pendidikan Islam, praktisi bahasa Inggris berupaya untuk memenuhi kebutuhan spiritual pembelajar (Irwansyah dan Nurgiyantoro, 2019), di samping berbagai kebutuhan yang disebutkan dalam Penelitian ini ditujukan pada pembelajaran bahasa Inggris di lembaga pendidikan Islam dalam konteks tertentu, khususnya di Perguruan Tinggi Islam (selanjutnya disebut PTKI). Beberapa cendekiawan telah melaporkan tentang kekhususan lembaga pendidikan Islam. Tan dan Kasmu menyoroti kebutuhan ganda madrasah di Singapura, yaitu kebutuhan untuk memenuhi prestasi akademik yang tinggi dan kebutuhan untuk mencetak manusia religius yang adaptif terhadap dunia modern, negara sekuler, dan masyarakat pluralistik. Sementara itu, Ihsan et al. (2021) mencatat fenomena beban ganda sekolah Islam di Indonesia, yaitu beban memenuhi tuntutan kurikulum nasional dan beban menjalankan kurikulum keagamaan. 


2. Metodologi

Penelitian ini menerapkan penyelidikan naratif, yang merupakan jenis penelitian kualitatif yang mengungkap pengalaman hidup, perspektif unik, dan pemahaman mendalam tentang seorang individu atau sekelompok orang.Jenis penelitian ini umumnya digunakan untuk menyuarakan perspektif individu atau kelompok yang dianggap memiliki posisi atau suara yang terpinggirkan. Cohen, Manion, dan Morrison (2011) menegaskan bahwa penyelidikan naratif mengungkap pengamatan atau pengalaman pribadi.Dengan demikian, hal ini memperkuat dimensi realisme, keaslian, kemanusiaan, kepribadian, emosi, pandangan, dan nilai yang terkandung dalam situasi tertentu. Jenis penelitian ini cenderung sesuai untuk ilmu-ilmu sosial, dan sekarang menempatkan pengalaman pribadi atau riwayat hidup sebagai titik masuk untuk lebih memahami kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Riwayat hidup kemudian menjadi pendekatan untuk memeriksa reaksi, respons, interpretasi, pandangan dalam, atau autokritik seseorang atau sekelompok orang terhadap fenomena dunia mereka (Bungin, 2015). Dalam konteks ELT, Suryana et al., (2021) menerapkan penyelidikan naratif untuk mengeksplorasi persepsi guru bahasa Inggris dalam konteks spesifik seperti Covid-19. Jadi, penyelidikan naratif adalah jenis penelitian kualitatif yang 

memberikan informasi mendalam tentang pengalaman atau perspektif unik individu atau kelompok orang.


3. Kesimpulan

Secara ringkas, praktisi bahasa Inggris di PTKI menegaskan adanya tugas ganda, yakni sebagai pengajar bahasa Inggris dan sebagai penyampai ajaran, nilai, dan tradisi Islam. Peran ganda ini didukung oleh narasi teologis, khususnya dalil dakwah Islam, dan narasi akademis yang menunjukkan distingsi ilmiah pembelajaran bahasa Inggris di PTKI serta upaya mengintegrasikan ilmu berdasarkan perspektif interdisipliner. Kontekstualisasi tradisi Islam dalam pembelajaran bahasa Inggris di PTKI terpolarisasi menjadi narasi modus eksplisit, yakni melalui unsur-unsur pembangun yang terkait langsung dengan pembelajaran bahasa Inggris, dan narasi modus implisit, yakni melalui unsur-unsur yang tidak terkait langsung dengan pengajaran bahasa Inggris seperti tata tertib berpakaian dan berinteraksi sosial. Pemangku kepentingan bahasa Inggris di PTKI hendaknya menjadikan narasi tugas ganda sebagai bagian dari dokumen resmi lembaga dan program studi. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi resmi kepada pihak eksternal terkait distingsi pembelajaran bahasa Inggris di PTKI.Bahan ajar tampaknya merupakan cara eksplisit dari strategi kontekstualisasi yang layak mendapat perhatian lebih lanjut. Karena alasan ini, upaya untuk mengembangkan bahan ajar berdasarkan bahasa Inggris Islam dan literatur Islam tampak potensial melalui skema penelitian Penelitian dan Pengembangan. Para penulis mencatat bahwa keterbatasan penelitian ini berkaitan dengan terbatasnya jumlah partisipan yang terlibat. Untuk mencapai narasi yang lebih komprehensif tentang kontekstualisasi tradisi Islam dalam ELT, upaya penelitian di masa mendatang harus mencakup spektrum partisipan yang lebih luas dari berbagai daerah dan PTKI di seluruh kepulauan Indonesia untuk mengetahui apakah praktik kontekstualisasi tersebut menantang atau selaras dengan metodologi dan teori ELT konvensional.


Tugas PKKMB : Oney Meyputri Galiherdianti

Komentar